Senin, 25 November 2013



Jadwal Kegiatan
Banjar Batur Sari Tahun 2013


No

Tanggal

Waktu

Kegiatan

Peserta


1

13 Jan.     2013

07.00 Wita

Kerja Bakti

Seluruh Anggota
2
10 Feb.    2013
07.00 Wita
Kerja Bakti
Seluruh Anggota
3
10 Maret 2013
07.00 Wita
Kerja Bakti
Seluruh Anggota
4
11 Maret 2013
07.00 Wita
Membuat Ulam Caru
Prajuru Banjar Hindu
5
11 Maret 2013
16.00 Wita
Macaru
Krama Banjar Hindu
6
11 Maret 2013
18.00 Wita
Pangrupukan
Krama Banjar Batur Sari
7
12 Maret 2013
00.00 Wita
Brata Penyepian
Seluruh Anggota Banjar
8
17 Maret 2013
19.00 Wita
Rapat Odalan Banjar
Krama Banjar Hindu
9
25 Maret 2013
16.00 Wita
Menghias Banjar
Krama Banjar Hindu
10
26 Maret 2013
16.00 Wita
Odalan Banjar
Seluruh Aggota Banjar
11
29 Maret 2013
07.00 Wita
Nglugas Pengangge
Prajuru Banjar
12
14 April   2013
07.00 Wita
Kerja Bakti
Seluruh Anggota
13
12 Mei     2013
07.00 Wita
Kerja bakti
Seluruh Anggota
14
09 Juni    2013
07.00 Wita
Kerja bakti
Seluruh Anggota
15
14 Juli     2013
07.00 Wita
Kerja Bakti
Seluruh Anggota
16
11 Agus  2013
07.00 Wita
Kerja Bakti
Seluruh Anggota
17
08 Sep    2013
07.00 Wita
Kerja Bakti
Seluruh Anggota
18
13 Ok     2013
07.00 Wita
Kerja Bakti
Seluruh Anggota
19
10 Nop   2013
07.00 Wita
Kerja bakti
Seluruh Anggota
20
8 Des     2013
07.00 Wita
Kerja Bakti
Seluruh Anggota
21
22 Des   2013
19.00 Wita
Rapat Akhir Tahun
Seluruh Anggota

Kamis, 27 Januari 2005


 Pura Antap 
Desa Takmung Klungkung

1. Tempat Beryoga Seorang Pertapa Sakti

Pura Antap, berlokasi di Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Propinsi Bali. Pura Antap ini ternyata mempunyai banyak keunikan, karena ada banyak penyawangan  Pura-Pura  di Bali, termasuk juga ada   Pesimpangan Bhatara di Dalem Ped. Juga banyak sekali mengandung  cerita-cerita tenget, sehingga sampai saat  ini masih misteri. Bagaimana kisah pura ini selengkapnya?

Para pembaca yang penulis hormati, sebelum penulis menghaturkan segala sesuatu tentang Pura Antap ini, marilah kita menghaturkan sembah sujud ke hadapan Ida Sanghyang Aji Saraswati dan Bhatara Bhatari yang melinggih di Pura Antap ini. Mudah-mudahan Beliau Asung Wara Nugraha kepada damuh-damuh Beliau yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Pura Antap ini.

Sekali lagi penulis menghaturkan sembah dengan penuh sujud bakti, mohon ampun kehadapan Bhatara-Bhatari yang melinggih ring Pura Antap, karena damuh Bhatara-Bhatari berani menulis dan menyebut-nyebut nama Bhatara-Bhatari. Tetapi tujuan penulis tiada lain, hanya ingin berbakti agar para Damuh Bhatara-Bhatari mengenal lebih dekat tentang Pura Antap ini. Sehingga Para Damuh Bhatara-Bhatari di masa-masa yang akan datang akan lebih berbakti lagi.

Apabila pembaca melewati jalan   Klungkung  ke Denpasar,  di kilometer 3 dari Klungkung, tepatnya di sisi timur jalan dan di utara Banjar Takmung atau di selatan Gria Kemenuh Batu Tabih. Maka  akan menjumpai sebuah   Pura yang dinamakan Pura Antap.

Pura Antap merupakan sebuah pura yang sangat indah dengan lokasi yang cukup luas, apalagi pura ini terletak dipinggiran persawahan yang membentang di sebelah utara dan timurnya. Sedangkan anak sungai yang indah menjadi batas di bagian baratnya. Disebelah selatannya merupakan areal tegalan yang masih sangat asli keadaannnya, bahkan di areal ini berdiri sebatang pohon kelapa dengan banyak cabang. Pada siang hari ketika penulis datang ke pura ini, keadaannya sangat sejuk, karena di area pura ini tumbuh 2 buah pohon yang sangat besar.

Dimadya Mandala tumbuh sebatang pohon kepah yang menjulang sangat tinggi, sedangkan di Jabaan atau di Nista Mandala tumbuh pohon Ketapang yang dipeluk oleh pohon Beringin dan Keresek. Kedua pohon ini tentu menambah getaran magis dari Pura Antap ini.

Pura Antap adalah, salah satu Pura yang ada di Desa Takmung. Keadaan umumnya, hampir sama dengan Pura-Pura lainnya. Tetapi Pura Antap ini sedikit mempunyai keunikan, karena adanya beberapa pelinggih penyawangan Pura-Pura di Bali, termasuk pelinggih pesimpangan Bhatara Dalem Ped Ring Nusa Penida.


Pamedal Uttama Pura Dalem Antap

Maka itu, tidak heran kalau  oleh pengemponnya, Bhatara yang berstana di Pura Antap ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit  termasuk penyakit hewan.

Mengenai sejarah keberadaannya belum ada yang bisa memastikan, karena sampai saat ini tidak ada bukti tertulis, baik berupa Prasasti maupun dalam bentuk lain,  yang dapat penulis temukan. Sehingga siapa yang mendirikan, dari mana yang mendirikan, apa tujuan didirikannya Pura ini, maupun pada jaman apa Pura ini didirikan masih belum jelas.

Penulis pernah membaca turunan rontal dari Gria Takmung, didalam rontal itu hanya disebutkan, ketika I Gusti Patih Ularan masih berdiam di Desa Takmung,  pernah merehab atau memperbaiki Puara Antap ini.



Tetapi, menurut penuturan Pemangku Wayan Sirna, yang merupakan Pemangku Jan Banggul di Pura ini mengatakan. Dia   sering mendengar Mitos tentang keberadaan Pura ini secara lisan dari penglingsirnya secara turun temurun. Disamping itu dia  juga mendengar dari berbagai sumber, terutama dari para pengelingsir pengemong Pura Antap ini.

Konon Pada jaman kejayaan Majapahit, Kriyan Patih Gajah Mada mengutus seorang Ksatria Majapahit untuk menakklukkan pulau Bali ini. Kesatria itu bernama Kesatria Antapan. Ketika menyeberangi selat Bali dalam rangka perjalanannya ke Bali ini, tiba-tiba perahu yang ditumpanginya dihantam badai.

Perahu itu  akhirnya hanyut  sampai ke Laut Selatan Pulau Bali, dekat Pulau Nusa Penida. Di Tengah lautan  Beliau tidak dapat menerka mana utara dan mana selatan, berhubung alat navigasi kala itu masih sangat sederhana. Entah karena sudah takdir, kala itu  beliau dapat melihat sebatang pohon dikejauhan. Beliau berpikir, di bawah pohon itu tentulah merupakan daratan. . Akhirnya pohon inilah yang beliau jadikan tujuan. Ketika beliau  sudah mencapai garis pantai, ternyata daratan itu adalah Pulau Bali, pulau yang sebenarnya akan di tuju. Dari pantai ini Beliau melanjutkan perjalanannya menuju pohon yang tadinya terlihat dari tengah laut. Setelah selamat sampai di tempat pohon itu, ternyata pohon itu adalah pohon ketapang. Pohon Ketapang ini  tumbuh di tengah persawahan yang sangat subur, serta ditepi sungai yang sangat jernih. Begitu tertariknya beliau akan tempat ini, beliau akhirnya mendirikan sebuah pura.  Pura, ini selanjutnya dipakai sebagai tempat tinggal sekaligus tempat beryoga/pertapaan.

Sedangkan, sumber lain seorang penari topeng dari banjar Sidayu, mengatakan, pura Antap ini sebenarnya didirikan oleh Brahmana Ireng.  Ceritanya ketika beliau pergi dari Klungkung bersama saudara beliau Dalem Putih. Perjalanan beliau ketika itu menyusuri sungai Jinah, yang dimulai dari batu tumpeng sampai batu lesung, dan sampai di tempat pura Antap ini. Ditempat inilah beliau berdua melakukan semedi sebelum beliau melanjutkan perjalanannya.  Dari tempat ini beliau berjalan  keselatan sampai pantai lepang, dari pantai lepang  lalu beliau melanjutkan perjalanan ke barat. Sedangkan Batu tupeng dan batu lesung  sampai sekarang ini, memang masih ada dan letaknya ditengah sungai jinah, di tempat beliau beryoga ini kemudian didirikan pura Antap. 

Tetapi sumber lain, juga seorang penari topeng dari Desa Blangsinga Gianyar, mengatakan pura ini sebenarnya merupakan tempat pertemuan antara Dalem Ireng dengan Dalem Putih setelah beliau lama berpisah.  Maka itu, wewengkon tempat ini dinamakan Takmung yang berasal dari kata Temu dan Ang, atau temuang. 
Sedangkan kata antap berasal dari kata Atep, atau bertemu.  Ditempat beliau bertemu inilah kemudian didirikan pura. Artinya, pura ini adalah tempat bertemunya Dalem Ireng dan Dalem Putih, maka itu pura ini disebut Pura Dalem Antap. Tetapi entah kenapa lama-lama Pura ini sering disebut Pura Antap saja sampai sekarang. Sedangkan status Pura Antap sekarang ini adalah Pura Kahyangan Desa, yaitu tempat suci pemujaan oleh masyarakat Desa dalam satu kesatuan wilayah Desa Pekraman, khususnya Desa Takmung

Beberapa sumber juga mengatakan. Pura Antap ini juga pernah dipakai sebagai persinggahan terakhir di Klungkung oleh Pedanda Sakti Manuaba, ketika beliau pergi kesah dari Bukit Abah ke Tegalalang.

Para pengelingsir-pengelingsir Desa Takmung bahkan mengatakan, I Gusti Patih Ularan, sebelum beliau menyerang kerajaan Blangbangan di Jawa Timur, beliau bersemedi dan mendapatkan kekuatan luar biasa di Pura Dalem Antap Ini.

Maka itu, untuk pembuktian semua cerita tersebut di atas, penulis menghimbau kepada generasi muda Desa Takmung, untuk mengadakan penelitian-penelitian tentang sejarah berdirinya Pura Dalem Antap ini.



2. Pelinggih Penyawangan Dan Pesimpangan

Yang menarik di Pura Antap ini  adalah, adanya Pelinggih Pelinggih Penyawangan  dan pesimpangan beberapa Pura yang ada di Bali. Misalnya Pelinggih Penyawangan Bhatara Ring Batu Kelotok,  Penyawangan Bhatara Ring Ulun Danu,  Penyawangan Bhatara Segara Tasik, Pelinggih Pura Tumpa, termasuk Pesimpangan Bhatara Dalem Ped Ring Nusa Penida. dll.

Dari beberapa sumber yang penulis baca, ada beberapa pendapat tentang kenapa penyawangan ini dibuat. Pendapat pertama mengatakan, karena penyungsungnya tidak berani datang langsung ke tempat pura itu,  untuk menyelenggarakan yadnya. Hal itu terjadi karena pada waktu itu berdiri Kerajaan-Kerajaan kecil, dan sering terjadi perselisihan antar satu Kerajaan dengan Kerajaan yang lain. Sehingga  warga yang berdomisili di wilayah Kerajaan yang sedang berselisih dan bertentangan dengan Kerajaan lain, yang di wilayahnya terdapat Penyungsungan Jagat,  tidak berani datang untuk  melakukan yadnya ke pura tersebut. Sebagai jalan keluarnya, mereka lalu mendirikan pelinggih sebagai penyawangan.



Sedangkan pendapat lain mengatakan, adanya penyawangan itu, karena pura-pura penyungsungan jagat itu letaknya sangat jauh, sedangkan transportasi pada waktu itu tidak sebaik sekarang. Maka sebagai jalan keluar adalah mendirikan penyawangan.

Tetapi khusus adanya penyawangan beberapa bhatara yang ada di Pura Antap ini, menurut penulis mungkin ada hubungannya dengan sejarah dan Fungsi Pura Antap dan beberapa tempat yang ada di Bali. Misalnya Penyawangan Bhatara Ring Batu Kelotok.

Seperti diketahui Pura Batu Kelotok adalah pura tempat menstanakan Dewi Sri, dewinya tanaman  Padi.   Dewi Sri merupakan dewi kesayangan para petani. Pura Antap ini terletak di tengah hamparan sawah yang subur dan luas. Maka itu, adanya penyawangan pura Batu Klotok ini jelas untuk menyembah bhatara ring Batu Klotok yang menstanakan Dewi Sri yang erat kaitannya dengan pertanian.

Bagitu juga halnya dengan  Penyawangan Bhatara  Ulun Danu  Batur, tentu sangat erat kaitannya dengan pertanian. Karena Pura Ulun Danu Batur dianggap sebagai sumber air, sedangkan air adalah hal yang sangat penting untuk pertanian.

Pelinggih Pura Tumpa adalah berfungsi sebagai Dokter Hewan pada jaman itu. Karena sampai saat ini, bagi masyarakat Desa Takmung dan sekitarnya, yang binatang kesayangannya terkena penyakit, maka cukup nunas tirta di pelingih pura tumpa ini saja. Maka itu, setiap piodalan di Pura Antap ini pasti ada aturan hewan, seperti ayam, bebek dan kucit dari masyarakat disekitarnya, yang jumlahnya sampai melebihi keperluan upacara.

Palinggih Pasimpangan Bhatara Dalem Ped

Sedangkan  pelinggih penyawangan Bhatara Segara Tasik ini, penulis mendapat 2 sumber. Pendapat pertama mengatakan itu adalah pelinggih penyawangan Bhatara Segara Tasik, sedangkan pendapat lain mengatakan itu adalah penyawangan Bhatara  Masceti. Tetapi yang jelas sampai sekarang ini penulis belum menemukan pura yang bernama Segara Tasik. Sehingga timbul pertanyaan penulis, tidakkah pura Segara Tasik itu sama dengan Pura Masceti, yang kebetulan berada di Tepi Segara (penghasil tasik).

Tetapi yang paling menarik justeru di Pura ini ada Pelinggih Pesimpangan  Bhatara Dalem Ped Ring Nusa PenidaPesimpangan Beliau ini terletak di Madiya Mandala, atau di Jaba Tengah. Disamping pelinggih Beliau tedapat batu besar dan Pohon Ketapang yang dengan  erat dipeluk oleh Pohon Beringin dan Kresek. Batu besar itu  diyakini sebagai pelinggihan beliau, ketika beliau melancaran di Bali.

Seperti  diketahui, Pura Dalem Ped ini merupakan kiblat bagi orang-orang yang menyenangi Ilmu kawisesan. Dengan adanya pesimpangan Bhatara Dalem Ped di Pura Antap ini, tentu menambah keangkeran dari Pura Antap ini. Maka itu, setiap piodalan banyak sekali para pemedek yang nunas benang Tri Datu di pesimpangan Bhatara Dalem Ped ini. Seperti diketahui, di Klungkung ada semacam mitos, setiap orang yang memakai benang Tri Datu yang didapatkan dari Bhatara Dalem Ped akan terhindar dari mara bahaya. Maka itu, tidak heran kalau orang-orang Klungkung sehari-harinya  memakai benang Tri Datu yang didapat dari Pura dalem Ped termasuk pesimpangan Beliau di Bali.


3. Taulan Untuk Mohon Hujan

Taulan artinya  Togog atau arca yang terbuat dari batu padas atau paras.  Kalau pemedek pura dalem Antap ini,  sempat melongok ke dalam pejenengan atau gedong bata, akan terlihat banyak sakali taulan yang tersimpan disini. Ukurannya bervariasi dari yang sebesar kepalan tangan sampai sebesar manusia, dan yang terbesar adalah berbentuk Bhatara Gana. Dengan adanya taulan berupa Bhatara Ghana, maka penulis menduga  ada hubungannya dengan Hindu Ghanapatiya, yaitu sekta yang menyembah Bhatara Ghana.  Sekta ini sempat berkembang di Bali pada Jaman kejayaan Majapahit, bahkan Patih Gajah Mada diperkirakan adalah sebagai penganut sekta Ganapatiya ini.







Palinggih Gedong Dengan Ornamen Samping Ratu Rangda

Gedong Bata yang ada di Pura Antap ini juga agak istimewa, di bandingkan dengan pelinggih-pelinggih pejenengan yang ada di pura lain di Takmung. Pejenengan di pura Antap ini sungguh sangat istemewa, karena ukurannya cukup besar dan tinggi, ornamen sampingnya juga berupa Rangda. Penulis katakan istimewa, karena dari  pengamatan penulis di beberapa pura yang ada Gedong Batanya di Desa Tamung, ornamennya biasanya bukan berupa Rangda, bahkan didalamnya biasanya kosong.

Taulan ini biasanya dipakai oleh krama Desa Takmung untuk memohon hujan, terutama pada saat musim kemarau. Caranya dengan merendam taulan ini di sungai yang ada disebelah pura Antap. Tetapi taulan ini kadang-kadang dipakai untuk tujuan yang tidak baik, misalnya membuat hujan ketika ada masyarakat membuat yadnya, dengan jalan mengambil taulan ini pada tempatnya dan merendamnya di sungai.


Maka itu, Pemangku jan banggul pura Antap, kalau mengetahui taulan ini hilang dari tempatnya, maka  akan mencarinya di sungai itu dan pasti ketemu.

Untuk menghindarkan penyalah gunaan taulan  ini, maka pada tahun 1985, pejenengan ini pintunya di kunci dan kunci ini dibawa oleh pemangku dan penglingsir pura. Sehingga semenjak itu tidak ada lagi warga yang mengambil taulan ini untuk tujuan yang tidak baik.
4.  Pohon Kelapa Bercabang Sebagai Bahan Obat


Apabila pemedek mengarahkan pandangannya keselatan, Sepuluh meter   disebelah selatan tembok penyengker pura,  tepatnya disebuah tegalan milik masyarakat banjar Takmung,  tumbuh sebatang  pohon kelapa. Sepintas pohon kelapa ini hampir sama dengan pohon kelapa yang ada disampingnya, daunnya lebat, buahnya juga banyak Tetapi kalau pandangan kita arahkan ke puncaknya, pohon kelapa ini betul-betul unik, karena pohon kelapa ini memiliki banyak cabang serta buah yang sangat lebat. Bahkan masing-masing cabangnya mengeluarkan buah. Sehingga Secara kasat mata,  pohon kelapa ini betul-betul indah dan unik. Betapa tidak unik, pohon yang didalam bahasa biologinya adalah Coconusifera sp dan  termasuk kelas monokotil dengan ciri khas tidak mampu bercabang.

Tetapi lain halnya dengan pohon kelapa yang ada di sekitar wewengkon pura Antap ini, dia  mampu mengeluarkan banyak cabang. Seakan-akan Bhatara yang melinggih disini ingin menunjukkan kebesarannya, bahwa kalau beliau berkehendak apapun dapat terjadi, termasuk pohon kelapa bercabang ini.  Hal ini tentu telah menyalahi kodrat dan melenceng dari garis  ilmu pengetahun.



Pada hari-hari tertentu banyak sekali orang-orang mencari bagian-bagian dari kelapa ini, baik babakannya, akarnya atau tanahnya. Syaratnya?, tentulah  harus mapiuning dulu di pura antap dan jangan-coba-coba untuk mencari bagian kelapa ini tanpa mapiuning di pura antap.



Pernah ada kejadian, seorang paranormal dari Denpasar mencari babakan pohon kelapa ini tanpa mapiuning di pura Antap, sebulan kemudian paranormal itu datang lagi untuk ngaturang Guru Piduka.

Menurut penuturan pemangku Wayan Sirna, satu-satunya orang yang pernah mendapatkan buah kelapa tersebut adalah I Wayan Silur, seorang warga banjar takmung . Bahkan pemangku Wayan Sirna yang sudah puluhan tahun mengabdi jadi pemangku, belum pernah mendapatkan buah kelapa tersebut, padahal buahnya sangat banyak. Kapan jatuhnya atau siapa yang mendapatkan dia tidak pernah tahu.

5. Para Ancangan Penjaga Pura Antap

Seperti umumnya untuk setiap Pura, tentu mempunyai ancangan yang bertugas menjaga kesucian pura secara niskala. Menurut Pemangku Wayan Sirna, yang merupakan pemangku Jan Banggul Pura Antap. Disini banyak sekali ancangan yang berupa binatang-binatang  purba. Tetapi yang sering menampakkan diri adalah Lelipi (ular). Lelipi  ini pada hari-hari tertentu, bahkan sering terlihat dirumah pemangku Wayan Sirna.

Lebih lanjut pemangku Sirna mengatakan, sehabis piodalan yang jatuh pada redite langkir, maka jun tirta biasanya ditaruh terbalik (melinggeb) di natar bale pepelik. Apabila beberapa harinya jun ini di buka pasti berisi kulesan lelipi.  Kulesan ular ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit, tetapi anehnya tidak ada warga yang berani mengambil kulesan ini, karena takut. Maka itu, apabila ada warga yang sakit, cukup mapinunas secara lisan.

Selanjutnya, Pemangku Sirna mengatakan, kulesan ular ini, besarnya tetap sebegitu saja (sambil menunjukkan jempolnya).  Padahal beliau sudah melihat kulesan ular ini semenjak beliau masih kanak-kanak, sampai sekarang sudah berumur 75 tahun.

Bagi Paranormal atau orang-orang yang  mampu menembus batas ilusi, di pura Antap ini memang banyak terdapat ancangan berupa binatang purba, diantaranya Celeng mecaling dan Kuda berkaki tiga dan Sapu berjalan, dan banyak lagi, burung sesapi, bureng tengkek. 

Burung tengkek ini bahkan dipakai ciri oleh masyarakat desa Takmung.  Apabila ada masyarakat mapinunasan di pura Antap ini, dan pada saat ini ada  burung Tengkek bersuara, segala yang diminta pasti akan terpenuhi.



Tetapi ancangan yang paling rangseng adalah yang menjaga pelinggih pesimpangan bhatara Ring Dalem Ped, yaitu berupa orang hitam yang mebulet jengking serta membawa sanjata Kapak.


6. Pelinggih Tumpa

Salah satu pelinggih yang ada di Pura Antap adalah Pelinggih Tumpa. Pelinggih ini terdari dari tiga bangunan. Satu bangunan berbentuk seperti gedong yang diapit dengan tempat tirta. Tempat tirta ini sepintas mirip seperti palungan yang terbuat dari batu baras. 

Menurut penuturan pemangku disini, tempat tirta ini jarang sekali kering, sekalipun dimusim kemarau. Apabila tempat tirta ini hampir kering, biasanya akan turun hujan. Bahkan selama pengabdiannya menjadi pemangku disini, belum pernah melihat tempat tirta ini sampai kering.


Pelinggih Tumpa

Pada piodalan, pelinggih ini banyak sekali mendapat aturan berupa hewan, baik itu ayam, bebek, kucit bahkan celeng.

Dari penuturan beberapa warga, apabila hewan peliharaannya sakit, cukup memerciki tirta yang didapat dari Pelinggih Tumpa ini. Apabila Hewan peliharaan nya sudah sembuh, maka pada saat piodalan biasanya mereka ngaturang ayam, bebek, kucit atau celeng terserah kaul mereka waktu nunas tirta.



Didalam pelinggih Tumpa ini terdapat 3 buah paras berbentuk seperti Bajra (ketu) Pedanda, maka itu tempat ini diyakini sebagi tempat penyimpenan niskala Bajra atau Ketu yang pernah dipakai oleh pendiri Pura Antap ini.

Selanjunta pemangku jan banggul mengatakan, pelinggih ini merupakan sumber Ilmu Pengetahuan. Terutama ilmu yang berhubungan dengan kewisesan. Maka itu kalau ada hubungannya dengan balian atau spiritual  maka di pelinggih inilah tempatnya untuk mapinunasan.





Penulis, Ir. Putu Januar Ardhana
Didampingi Istri Tercinta




Senin, 27 Januari 2003

TURUNAN LONTAR GRIYE TAKMUNG


TURUNAN LONTAR GRIYE TAKMUNG
“OM AWIGHNAM ASTU NAMASEDEM”
KSAMA SWAMEM MAHA DEWEM HRDAYA SUDHA NILAYEM, ASTI ESTI, OM MANTREM MPU YOGISWAREM, PANGAKSAMAM INGULUN RI PADA BHATARA HYANG MAMI, SANG GINELARING ONGKARA MANTRA SIRE ANUGRAHA KAPURWANIRE HANANING DESA PRADESA MWANG SANG WUS LEPAS, MOGA LUPUTA MAMI RING TULAH PAMIDI SAPAMIGRAHING KABEH, NAMO ASTU JAGADHITA.

Sapemadeg Sire Dalem Kresna Waturenggong ring  Swecapure Gelgel duk Çaka 1382 (1460 M) rawuh Çaka 1472 (1550 M), pinaka patih Kyayi Gusti Ularan.  Tosning tumenggung suta, asrama sire ring Kaplug Macan, Kuta Umung sane kaiter antuk Alas Blatung kulonya, ring wetanye Alas Pungut, ring purwa sisi kelod Alas Merak muwah balanye sami, sepa satus, sampun swe sire jenek ring Kuta Umung rinabas Alas Blatung, Alas Pungut mwang Alas Merak saha kilyaning unguh sire, ginawe sawah maharani Carik Banjar Saren, Tebe Jero, Carik Pungut mwang Sawah Merak.


1

            Anangun sire I Gusti Ularan pamugeran Hyang Kawitan ira mangaran Pamerajan Ularan.  Wibuh tang Kuta Umung sapamadeg sire, ramya kang swaraning dok mapan tan kurang wae, dadi tunggal dalu, sumuyug swaranya maho, trepti kang Kuta Umung malanduh sarwa tatanduran.  Mapan tan lali sire astiti bakti ring Hyang Ning Dalem Desa, Puseh, mwang Panataran Desa lan Bale Agung, sira pinaka ungguhing utpati, stiti mwang linayang kalaning kapatyan.  Akweh mwah parahyangan panyiwian sire winangun minakadinya Pura Antap kasanggra balanya magenah ring Banjar Ambengan, Batutabih, Takmung, Pura Batur lungguh Ida Hyang ning Dewi Danu pinaka pangeraksa toya kauripan, mwah sire anangun linggihing Dewi Melanting pinaka uluning pasar ring Kuta Umung.  Tat kalaning anyeti amapag toya sira ayadnya ring kahyangan Puseh mwah Ulun Suwi mangkana kahanannya nguni.
            Anggah ungguhing parahyangan sane kawangun manut ring Asata Kosala mwang Asta Bumi sekadi parahyangan Dalem kawangun doh saking genah pakubonan sire, ring kuloning desa, parahyangan Puseh magenah ring sisi kidul purwaning parahyangan Dalkem.  Ring purwaning parahyangan Dalem.  Ring purwaning Dalem Setra Kuta Humung.  Pura Desa lan Bale Agung magenah ring ganea Catus Pata, maparek ring linggih sira I Gusti Ularan. 

2

Genah Setra Takmung kapikayun salah ungguh dwaning magenah ring huluning kahyangan Puseh lawan Dalem, raris kagingsir ring wetaning Kuta Humung ring tepining Tukad Toya Jinah ungguh setra dumun dados sawah kawastanin Carik Seme katekeng mangke.
            Waliakene muwah Çri Aji Waturenggong haneng Swecapura, sira mahyun angelamar Raja Putri Blangbangan anama Dewa Ayu Mas, anging tan sidha, dening pangekan sira Çri Juru bupati ring Blangbangan laju ta sira Çri Aji Waturenggong angutus sira Kyayi Ularan amejahi Çri Juru.
Anging hana pawacanan Dalem ring Ki Ularan, yan sidha ngalahang Blangbangan juk sira Çri Juru aywa tinigas inapusan wenang amuwit Sira Ularan saha bala tan kateng hawan, sampun napak ring kakisiking Blangbangan, Çri Juru sedeng acemane lawan stri mwang anak ira katepening segara Blangbangan, kairing de bala mwang tetabuhan, dadi kacandek caman ire dé Sire Ularan, tan dwe rames kang prang saling suduk long linangon, akwéh bale sire pejah, saking Bali mwang Blangbangan, dadi kawés juge sire Kyayi Ularan aparang tanding lawan Sire Çri Juru, laju tinigas gulunye Çri Juru dé Kyayi ULaran, inaturaken mastaka mwang gelung nire ring Dalem Ēnggong, mérang sire Çri Nate Ēnggong, raris awacana


3

“Paman déning pada bwat ayah paman yadyapin kasalahang, ento mawanan paman uling jani kayang ka wekas, ede bwin tangkil, ire maang paman bekel carik winih 200, apang ada anggon paman buktyang tekaning rowang 300 diri”, raris I Gusti Ularan nunas mepamit sahe sembah kejabaan, tanpe atme rasa ring angge, satindak anangis éling ring wacanan Dalem.
            Sarawuh sire ring Kuta Humung rasa tanpe bayu sire, sagerehan rabi mwang sanak putun ire atilar sire angungsi Désa Kalopakse, tan swé sire jenek ring Kalopakse angalih te sire maring Unggahan anerus maring Ularan singa kesari.
Satinggal sire I Gusti Ularan saking Kuta Humung, humung kang Désa Takmung, kari rwang nire I Pemekel Takmung, sire angélingang linggih sire Kyayi Ularan.
            Sube diwase hayu mahyun te sire Dalem Waturénggong.  Pamulihe maring sunyatan kadawuhan te sire I Pemekel Takmung ke puri Gélgél.  Praye tangkil ring sire Dalem, aswé sire Dalem angantos durung sire tangkil, manawe sampun tigang panginang, age sire Dalem pacang lunge, dateng te sire I Pemekel Takmung angetut buri lampah ire, aris Dalem awecane,  “Nah paman aje sire ngiring, iki isunaweh sire lontar sacakep, raris pakon sire pamulihe mwah.  Ritengahing awan katemu sire ring I Gusti Jelantik, raris sire Jelantik atanye “Sakéng endi paman? ”. 

4

I Mekel Takmung anyawurin “Titiang ngiring Dalem kaswargan”, mangkane sawur nire pasek, I Gusti Jelantik geli sahe ice amireng sawur sire pasek, sampun swé sire abawos age sire pacang apamit, dadi kacandek mwah I Pemekel Takmung, atanye mwah sire Arye “Paman apa awanante sinelat, swé sire sang kalih saling sawurin.  Dadi inujarah juga paican Ide Dalem, Paman, wéhane hulun lontar ike, paman juge tan wruh amace, hulun wéhe panukur, carik wit satak, tan panjang ujar sire Mekel Takmung anampi, suke te sire Kyayi Jelantik mawit saking ike maweweh-weweh kasidya adnyanan sire Kyayi Jelantik.
            Satinggal sire Dalem Waturenggong ring sunya atmake aninggal aken putre jalu kalih siki, kang jyéste apanelah Radén Pamayun bekung sire, kang ari apa saja Radén Segening.  Radén Pamayun kari jejake ngentos linggih ajiné apuspate Dalem Bekung daweg Çake 1472-1502.  Pinake pepatih keangkat limang diri, I Déwe Gedong Arte, I Déwe Nuse, I Déwe Pagedangan, I Déwe Anggungan, I Déwe Bangli. 
Sakéng pepatihé lelime, I Déwe Anggungan maprekanti ring Batan Jeruk, Pandé Bhase, mwang Jelantik Tohjiwe.  Presame sire angerusak linggih Dalem Bekung Çake 1503-1510 sami side kabasmi dwaning sane bakti ring Dalem taler kari akwéh, nanging Pandé Bhase polih pengampure.


5

            Pandé Bhase malih mahyun angrusak linggih sire Dalem.  Pandé Bhase side kapademang, sapunike taler Kyayi Talabah kapademang antuk Bandege, sakéng winayan Ki Capung, nanging I Capung taler padem.  Sapunike kawéntenan Keraton Gélgél sapemadeg Dalem Bekung.  Tan side ngawetuwang sukerte jagat Gélgél bine kadi ajiné Dalem Waturénggong.
            Dalem Bekung kagentos linggih Ide olih ariné Dalem Segening Içake 1428-1527, kawéntenan Keraton Gélgél sayan-sayan surud, nanging Dalem Segening akwéh maduwé rabi, mwang putre nire stri jalu 14 diri.  Akwéh pare pepatih mance lan pare mantra tan karenge dé Dalem.
            Tucape sire I Gusti Batu Lépang mérang ring kahyun mapan tan karenge dé Dalem, mahyun te sire angalih ungguh raris te sire matur ring Ide Sakti Telage pacang mepamit sahe inaturaken linggih mwang merajan atatakan Batu Lumbang ri sire Ide Telage, arse te sire Ida Sakti Telage.  Segrehan te sire aninggal kedatwan Gélgél amurang-murang lampah, rawuh sire ring kuloning Labak Nongan angaksi te sire parahyangan ring tepining segare, mahyun te sire sembahe, mapan sire amawe kris alit sinelet dadi inenahaken maring duwuring watu, tan tinahen dadi pegat watu ike dadi rwe, kawit saking ike pure ike ingaranan Çile Pegat.


6

Çile ngaran watu.  Pegat ngaran  putus.  Kadalon sire I Gusti Batu Lépang, sahe rumase adem ring angge, matangyan sire angawangun pakubonan ring kane, suwé te sire amupu kasukertan ing kane anangun te sire parahyangan panyiwian Hyang Déwate-Déwati nire marahan Merajan Batu Lépang, sahe sering sire ka Gélgél mwah, anging Dalem tan renge sapanangkil sire I Gusti Watu Lépang, dadi nek rumase ring angge, dadi mérang ring angge matemahan sagerehan sire anilar kedatwan, amurang-murang lampah rawuh sire ring Bengkel Badung mangkane hananye nguni katekéng dlahe.
            Sapenyeneng Dalem Dimadé, Çaka 1527-1608 ring Gélgél metu byote saking jabe mwang jero puri, sire karusak olih pepatih I Gusti Agung Dimade trehan Ki Agung Widye, Ki Maruti sidhe nyekep Sire Dalem, seduk rawuh Sire muspe saking Besakih anging tan sidhe déning KI Tabanan pinake manggale sidhe angerebut Dalem.
            Içake 1573 Ki Maruti sidhe angalah aken Dalem Segening, Sire angungsi maring Guliang Bangli, putran Dalem Agung Mayun mwang Déwe Agung Jambé masinutan ring Sidemen, Ajine sampun swé ring Guliang raris Sire lebar.  Sampun jejake putran Dalem Sire kalih, raris te Sire aminte ring Raje Buléléng, Badung, Tabanan, Dawan, Gianyar, angerejek Ki Maruti, alah te Sire Ki Maruti angungsi maring Kuramas Gianyar.

7

            Sampun mulihing sunyatan Sire Dalem Dimadé, kagentos linggih Sire antuk putrané Dewa Agung Jambé Çaka 1632-1697.  Pinake Raje pertame ring Semarepure, mapan Puri Gélgél sinanggeh letuh kalinggihin Ki Maruti nguni.
Dewe Agung Jambé sidhe mwah angawaliaken sukertan jagat Bali dados Aste Negare, nanging Buléléng kapertame lémpas saking Klungkung mawit Çaka 1629.  Buléléng nguwasayang Sumbawa Içaka 1599 mwang Lombok Içaka 1662.  Sapenyeneng Sire Déwe Agung Jambé pare mance, pepatih Agung  lame angukuhin ring Tihingan, I Gusti Dawuh angukuhi ring Kenyaring Surye, Penasan, wenging Kubon Tubuh Gélgél angukuhi ring Tepi Kelod ring Labak Nongan, angingsir Sire ngawétan anangun pakubonan dados Sidayu Nyuhaye, wanging Tojan Gélgél angukuhi ring kuloning Labak Panji mangké inaranan Pulayu, Sidayu Tojan Akéw mwah Sire Déwe Agung Jambé angingsir genah pare mance mwang mantra pinake pangukuh Puri Semarepure.
            Déwe Agung Jambé kagentos antuk Déwe Agung Dimadé, Ïçaka 1775-1825 maséhi.  Sapemadeg Sire déwe Agung Dimadé, Bali pecah malih dados 10 kerajaan.  Klungkung, Buléléng, Badung, Karangasem, Gianyar, Bangli, Tabanan, Menguwi, Payangan mwang Jembrane, mwah dadi 8 kerajaan, Badung dadi tunggil kalawan Manguwi, Payangan alah déning Buléléng raris karebut olih Bangli, Kerajaan Klungkung sayan-sayan rered, duk Sire Welande dating ke Bali ipun ngepah Bali dados 8 swapraje mangkane kepradatanye nguni.
8

I Déwe Agung Dimadé kagentos linggihé antuk I Déwe Agung Dimade tahun 1825-1837 maséhi, tan swé angamel jagat, kagentos mwah linggihé olih I Déwe Agung Sakti 1837- maséhi, Içaka 1759.  Sapenyeneng I Déwe Agung Sakti, Sire pamiduke ring wang Penasan Aji, mawit sakéng kawéntenan Sire Déwe Agung Sakti during jejake, kakekes pamannye Penasan Aji, mewastu sampun jejake wawu Sang Nathe wruh ring kehanan ire Déwe Agung Sakti,
anging I Pasek ring Penasan Aji katundung, mapan Sire tan kenéng pejah panjing, sami wanging Penasan Aji katundung rawuh ring Carik Gunung, tan swé Sire asinutan ring engkane, angalor aname Ume Salah.  Ume ngaran Genah.  Salah ngaran Kaiwangan.  Keartos genah jadme sane iwang, swéning aswé dados Umesalakan.  Ring  sajeroning Umesalakan, sampun hane jumenek ingkane manging katinggal wang ike, kari kang parhyangan kéwale, manut Içake 1371 tahun maséhi 1449.
            Sampun jenek Sire ring Umesalakan akarye kuwu-kuwu, anangun Sire panyiwianing Désa aname tunon, mwah Sire anangun Kahyangan Dalem sisi kalér kulonye sétre aname tunon, mapan matenget genah ike kagingsir kangin ring sétre mangké.  Parhyangan tengahing pekraman kalantur kasiwe olih wangin Penasan Aji, sahe kawangun mwah parhyangan Puseh, Batur Tumpe. 

9

Manut pararem Dése kasungkem akarye linggih Pure Dése mwang Balé Agung ring kahyangan Puseh, sahe sampun ngelinggiyang karye ring rahineCu, Pa, Dunggulan, Çake 1930-, tahun maséhi 2008.
Palemahan Dése Umesalakan sadurung dados margi, sisi kawuh rawuh Toye Bubuh, sisi kaler margi tedun ring Tukad Bangke tembus ring Pure Masayu raris Banjarangkan, sisi kangin Toye Tiyis mwah sisi kelod Carik Subak Penasan, sesampun I Welande akarye margi ring Bali raris katerbak setre, carik, miwah palemahan dése punike.  Permargi toye carik kekaryanang abangan, mawinan Sétre Umesalakan kari akedik nyisi jelinjing tiyis mangkane predatanye nguni katemu kateké mangké.
            Tucape mwah hananing Dése Takmung sapeninggal I Gusti Ularan saking Kute Humung, kari I Pemekel Takmung nguwasayang,  duk sire Déwe Agung Madé nyeneng agung ring Semarepure. I Pemekel Takmung piwal ring lungguh Ide, sareng juge Pemekel Lebah, Pemekel Ayung, Pemekel Kemoning mwah Pemekel Satre.  Déwe Agung Dimadé angutus Ki Gusti Ngurah Agung Kubakal hanéng Tihingan, mapan Sire tosning ksatria puruse agurit wsi, trehing prajurit, kanikayang angerusak meseh Semarapure.  Sire tan tulak satitah Déwe Gung Klungkung, raris Sire asikep keris I Baru Tance ngawangun yude ring kidul wétaning Dése Tihingan, sahe ngawangun kiskis binalumbang, ring carik lér kilyaning Takmung, Sire amawe prajurit bale Tihingan muwah Pau manawi 300 diri, sane angiter Kyayi Kubakal.
10

 Tan kacaritan ramén ikang prang antos surup, Sang Hyang Baskare enjang-enjing muwah te Sire anangun yude, anging bale Takmung sampun angantos sumuyug, masorak anantang bale Tihingan muwang Pau.  Nanging swé tan hane meseh jantos kesat socanye tanpe toye panon angawas datengéng satru, witike kawastanin Carik Liat Carik Kutuh, lihat-lihat matané tuh.
            Raris te sire I Gusti Kubakal anilib kairing wadwané ngerawuhin saking kangin anyisir Toye Jinah, dadi kagiat tang wadwe Takmung.  Kagebug saking samping, raris I Mekel Takmung maléce ninggal negare sahe iringan akedik, lolos angungsi ring Blahbatuh, jumenek ring Belege, umarek ring I Gusti Jelantik dadi juru kurung ring Jero Blahbatuh.  Sesan satrune ring Satre, Kemoning, Lebah mwang Ayung sapetilar I Mekel Takmung, sami nungkul éling newite angge Dalem kadi sané sampun.
            I Gusti Kubakal wus puput kang nyude pamulihe Sire maring Jero Sire ring Tihingan, kadawuhan mwah sire dé Déwe Agung Dimadé marek ring puri wus prapte ring puri kon sire amaceki Jagat Takmung, Sire tan wani tulak wacanan Déwagung raris mapamit sahe sembah, sampun tibe ring Tihingan matur Sire ring rakané I Gusti Bandul. 



11

Doning kanikayang macekin ring Takmung kicén angumpul aken wadwe sane pacang ngiring, pinake pamucuk tosning I Pandé Tusan, wadwané ngiring 40 diri, sampun jumenek ring Takmung mekarye raris wésme, kasarengin iringane sami.
Sire angawangun parhyangan ring huluning Dése wit linggih I Gusti Ularan aname Merajan Penataran.  Wekasan pinake pangiket terehan sire.  I Gusti Kubakal aputre lanang stri aname I Gusti Gunakse muwang I Gusti Ayu Grie.
            Titenin muwah parikramaning sire Ki Gusti Agung Bendul ring Tihingan angawangun karye atiwe-tiwe kawitan nire, genep saupakaraning saji atiwe-tiwe, muwang busananing kapatyan, amade busananing kaprabon, anganggé Badé Tumpang 9, Patulangan Lembu.  Rikanjekan déwase, karenge oleh Déwe Agung Dimadé, raris sire akirim surat ke Badung, Gianyar, Bangli, Karangasem, wekasan kaiter ikang Dése Tihingan, neher karusak, séde sire I Gusti Bendul, rabi muwang sutan ire, kari okan sire stri sawiji sedeng bobot nem sasih, kerarudang déné Kyayi Pucangan ke Badung sahe pinupa-pali ing kane, wekasan embas kang bobotan putre jalu inaranan I Gusti Badung, pinake parekan antuk I Gusti Pucangan ring Badung Negare.



12

            Lamining alami rusak jagat Tihingan mapan tan hane pemacek muwah, raris I Pandé pedek tangkil ring Sire Déwe Agung Puri Semarepure, mangde hanan muwah pemacek ring Tihingan, Déwe Agung awacane ring sire Pandé.
“Paman menawe hane kari anak anking Kyayi Bendul sisaning pejah kararudang ke Badung”, ike kanikayang sire angalih antuk Dalem, I Pandé anawur wacanan Déwagung, sahe  sembah mepamit ke Badung amendak I Gusti Badung, pinake pamacek jagat Tihingan. 
I Gusti Pucangan angicén, aris te sire I Gusti Badung jenek ring Tihingan.  Swé te sire ring Tihingan, rumase embang désané kiléning Takmung, raris te sire angalih maring kuloning Takmung pinake pangukuh gelaring Semarepure.  Kicén wadwe olih paman sire I Gusti Kubakal wanging Banjar Ambengan Takmung 30 diri, wekasan mearan Dése Bande, mapan binande sini déning lawan tmes tekaning mangkin, sampun  aswé sire jenek ring  Bande anangun sire parhyangan inaranan Sure Laye.  Sure ngaran Wani, puruse.  Laye ngaran prelaye.  Muwah amangun pamerajan linggih dané I Gusti Badung sisi lor Pure Surelaye, ring wétanye Carik Subak Penasan, kidul mewates Pure Dalem Umesalakan, sisi kulon Toye Tukad Bangke.


13

            Ring tahun maséhi 1942, hane wicare Takmung kelawan Bande mawit saking upacare Pitre Yadnye.  Wanging Bande asétre ring Takmung sinanggeh madoh angawe rompok ring Takmung.  Mahyun te sire angawé rompok nyisi Dese Bande sakte amawe tawulan angeliweri kahyangan dése.  Tan wéhane mapan tan wenang malih amawe tawulan maring dése pekraman, mawit saking ike sawus amitre yadnye, Bande tan malih asétre ring Takmung sahe angawé sétre ature I Mergig, mangkane predatanye nguni.
            Hanane I Gusti Kubakal amaceki Takmung, maputre sire kalih diri jalu stri, kang Jyéste aname I Gusti Gunakse kang aria name I Gusti Ayu Grie.
Salami I Gusti Kubakal rumakséng Takmung, malanduh tang bumi, asing tinandur mupu tan kurang pangan kinum.  Mapan sire anerus  aken baktiné kaye panyenengan sire Kyayi Ularan nguni.
            Wus wrede I Gusti Kubakal mur te sire amoring Hyang, gumanti putre nire, apanelah I Gusti Gunakse, ike sire anuwur Ide Wayahan Kajeng pinake patirtan sahe angaturang arin ire I Gusti Ayu Grie pinake dampati sire, sahe ginawé aken Grie lungguh ire kilyaning wrat mare, sahe catu cartebe jro mwang carik merak.


14

            Sampun swé sire Kyayi Gunakse amaceki Takmung, hane utusan sire Déwagung Dimadé ri sire, wecane sire Déwagung sampun swé sire I Pemekel Takmung magenah ring Blege, Blahbatuh, kon sire pamulihe, ingulun sayan sih ri sire, mamisinggih sire Kyayi, tinanyan sire I Mekel, memanah sire mewali ke Takmung, sampun umatur ring Kyayi Gunakse sire satinut ring titah sire Kyayi, raris kicén genah ring kidul kilyaning Dése Takmung sisi kangin.  I Mekel sahe iringannyane, amangun sire pakubon inaranan Celuk Losan, mapan I Mekel Losan ninggal Dése Takmung duk yudane marep I Gusti Kubakal nguni. I Pemekel Takmung asétre muwah ring Takmung.  Wus lami sampun akwéh wanging Losan, mahyun te sire angawé setre ring kilyaning dése aname Slukat, mangkane kehanannye kateke mangké.
            I Gusti Kuabakal asute 4 (?) atau I Gusti Gunakse, kang Jyeste anggeh ring Takmung (Kute Humung), kang Ari Pemadé makandelin puri Semarepure, kang npamaruju angalih genah ring Siku, kang pamungsu amaceki ring Lépang, sapeninggal I Gusti Batu Lépang dadi humung kang genah sire, tan hane pinake jage-jage tepining segare kidul, pakon te sire I Gusti Locong amaceki ing kane, sire tan wani tulak ring titah raman ire, laju te sire angalih ungguh ring abyan kapas, jeron Anak Agung kairing olih I Pandé, Pasek Pagehe, Pasek Pratéke. 

15

Satunggil wengi genahnye kagode antuk wong samar awinan sire agingsir ngawétan ring tengahing Dése daksine ning ungguh sire I Gusti Watu Lépang nguni sampun swé sire akuwu ring kane.  Akwéh dating wong dure dése milwe akuwu, hane saking Sengguwan Klungkung, Tegal Linggah Gianyar, Badég Karangasem, Batur Kintamani, Serongge Gianyar, Kuramas Gianyar, Sanur Badung, Banjarangkan Klungkung, Siku Klungkung, akwéh muwah tan kawilangan sayan-sayan ngaléplépang rawuhnyane, paclancan kawastanin Dése Lépang.
            I Gusti Locong tan maren baktiné ring ramarenan ire muwah astiti ring Kahyangan Takmung.  Matemahan sire adése ring Takmung, mangkane kehananinye nguni.  Kehanan I Gusti Gunakse amaceki Takmung (Kute Humung) sidhe ngawawa saputre potrake nire muwang, nyikiyang dése Takmungh, Bande, Losan, Lépang dados sapakraman anyiwi Tri Kahyangan Dése, malanduh kang Kute Humung, sirte side angalih toye saking Tukad Unde wus aprang lawan sire Mekel Lebah muwah sampun kalugre Déwagung Puri Semarepure.

“OM SANTHI, SANTHI, SANTI, OM”


16

DAFTAR PUSTAKA
1.       Babad Dalem Gelgel, Klungkung.
2.      Hili kita Gatah
3.      Lelintih Gusti Kubakal
4.      Lelintih Gusti Badung
5.      Lelintih Grye Takmung
6.      Babad Ularan Takmung
7.      Lelintih Satrye Dalem Klungkung















TURUNAN RONTAL
GRIA TAKMUNG





DIKETIK ULANG OLEH
IR. PUTU JANUAR ARDHANA


TAKMUNG KLUNGKUNG
2012